Pendidikan, Pasar, dan Transisi Demokrasi

( kata)

PENDIDIKAN adalah kunci menuju Indonesia Emas 2045. Pidato Presiden Joko Widodo saat pelantikan menegaskan makna strategis sumber daya manusia unggul. Kekayaan sumber daya alam belum menjamin kemajuan, namun negeri dengan sumber daya manusia tangguh meski miskin sumber daya alam telah memperlihatkan kemajuan yang berarti, seperti Jepang, Korea Selatan, Singapura.

Karena itu dunia pendidikan menjadi pertaruhan besar menciptakan sumber daya manusia unggul itu sehingga investasi di bidang ini harus at all cost. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim dan Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro punya kesempatan besar menyiapkan Indonesia emas melalui pendidikan dan riset yang unggul.

PASAR

Pendidikan berhubungan erat dengan pasar. Pertama, pasar tenaga kerja. Agenda link and match yang digagas sejak era Menteri Pendidikan Wardiman Djojonegoro kembali direproduksi untuk memenuhi serapan tenaga kerja itu. Pasar hari ini, pasar 2030, dan pasar 2045 akan sangat dinamis dan mengalami volatilitas yang tinggi. Pasar hari ini dicirikan oleh Revolusi Industri 4.0 dengan segala aksesoris teknologi digital, seperti Internet of Things, drone, robot, blockchain, kecerdasan buatan, percetakan tiga dimensi, dan teknologi lain yang mendorong konektivitas.

Perubahan akibat munculnya industri baru membuat kategori pasar tidak jelas. Go-Jek bukan semata bisnis transportasi tetapi bisnis ekspedisi, kuliner, kesehatan, finansial, hingga pendidikan. Apple dulu fokus pada komputer namun bertransformasi menjadi bisnis telepon pintar dan aplikasi. Bisnis berbasis platform makin populer dan menggantikan bisnis produk konvensional. Hal ini berdampak pada ketidakjelasan peta kompetisi dan gulung tikarnya perusahaan konvensional.

Otomatisasi sebagai konsekuensi ekonomi digital sudah di depan mata. Studi Mc Kinsey (2019) menunjukkan pada 2030 di Indonesia ada 23 juta pekerjaan yang digantikan mesin. Pada saat yang sama 27 juta hingga 46 juta pekerjaan baru akan tercipta.

Ilustrasi di atas sekaligus menggambarkan volatilitas, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas era baru. Kondisi ini menuntut keahlian-keahlian baru agar kita bisa adaptif terhadap zaman yang berubah. Mau tidak mau kemampuan kolaborasi harus makin diasah karena era ketidakpastian tidak bisa dihadapi sendirian.

Selain kolaborasi, kreativitas dan kepandaian memecahkan masalah kompleks akan menjadi pertaruhan generasi mendatang. Nadiem Makarim, Ahmad Zaky, dan Jack Ma tumbuh cepat bukan karena modal finansial awal yang mereka miliki ketika mendirikan perusahaan tetapi karena modal kreativitas yang tinggi. Volatilitas yang dahsyat ini juga membutuhkan kecepatan dan kelincahan yang lebih dahsyat. Banyak perusahaan besar gulung tikar bukan karena krisis orang pintar tetapi lebih banyak disebabkan masalah kecepatan, kelincahan, dan kreativitas orang-orang di dalamnya.

Bagaimana dunia pendidikan merespons itu semua? Sekali lagi misi utama dunia pendidikan adalah menghasilkan SDM unggul, yang bisa beradaptasi dengan dinamika pasar. Karena itu komponen penting yang perlu dibenahi adalah perombakan kurikulum, perubahan metode pembelajaran, kapasitas guru dan dosen, serta infrastruktur pendidikan. Sejak 2018, IPB memiliki konsep IPB 4.0 sebagai respons terhadap perubahan ini. Dalam pendidikan, akhirnya kurikulum lama harus disesuaikan dengan kurikulum baru yang bernama K2020, sebuah kurikulum yang berorientasi pada SDM unggul yang memiliki skill dan mental pembelajar yang lincah ( agile learner ).

Kedua, “pasar” keilmuan. Era 4.0 memerlukan teori-teori baru bahkan ilmu-ilmu baru. Ini tidak mudah karena sulitnya kita lepas dari masa lalu dan sulitnya kita menerawang jenis-jenis ilmu baru yang harus dibangun untuk masa depan. Tampaknya kita perlu menganalisis keilmuan saat ini dan memproyeksikan kebutuhan masa depan. Mestinya kekayaan budaya dan sumber daya Indonesia bisa menjadi basis tumbuhnya teori-teori baru. Untuk mewujudkannya perlu keberanian dan bekal saintifik dalam mendekonstruksi teori-teori yang ada, khususnya teori sosial dan ekonomi. IPB mulai mengembangkan ilmu keberlanjutan (sustainability science) dan berusaha mengeksplorasi realitas untuk menjadi bahan mengonstruksi teori-teori baru. Juga Ilmu Data (data science) untuk menjawab era big data.

Karena itu riset menjadi kunci. Selain untuk inovasi, riset juga mesti diarahkan untuk menghasilkan teori-teori baru khas Indonesia. Apakah mungkin? Pesimisme akan membuat kita berhenti saat ini juga, sebaliknya optimisme akan mendorong kita membuka mata dan hati untuk terus berpikir serta menemukan peluang-peluang baru.

Ketiga adalah pasar inovasi di mana dunia pendidikan harus berperan dalam menghasilkan inovasi unggul, yang menjawab kebutuhan pasar. Dengan Revolusi Industri 4.0 jenis inovasi pun mesti berbasis pada teknologi 4.0. Tuntutannya pun adalah kreativitas dan agilitas yang tinggi untuk terus jeli menangkap sinyal-sinyal kesempatan baru. Gagalnya Nokia bersaing di pasar telepon seluler bukan karena orang-orangnya tidak pintar tapi karena mereka tidak mampu menangkap sinyal munculnya Android sebagai peluang baru dan sebaliknya masih terus merasa besar sehingga berada di zona nyaman dan tidak mau berubah.

Menghadapi dinamika ini, perguruan tinggi perlu menghasilkan inovasi konkret yang merupakan solusi bagi industri, masyarakat, maupun pemerintah. Lahirnya inovasi unggul tersebut harus dimulai dari manajemen riset yang baik. Salah satunya adalah bagaimana para peneliti bisa terbuka wawasan dengan perubahan. Pemahaman peneliti terhadap realitas sudah menjadi keniscayaan, sehingga mereka tidak egois dengan topik penelitian mengawang-awang. Para peneliti harus mulai berorientasi pada solusi.

Karena itu pemerintah harus mendorong universitas membuat peta jalan riset agar hasilnya bisa diprediksi dalam kurun 5 tahun. IPB membuat konsep Agro-Maritim 4.0 sebagai payung konseptual untuk diturunkan dalam pendidikan, riset, serta pengabdian masyarakat, dan acuan para peneliti dalam menghasilkan inovasi 4.0 yang membumi.

Di titik ini pendidikan memerlukan keberpihakan. Keberpihakan akan semakin kuat bila nasionalisme juga kuat. Karena itu pendidikan juga punya tugas dalam penguatan nasionalisme peserta didik. Hal ini penting karena pada akhirnya kita harus jujur menjawab pertanyaan “untuk siapa sebuah inovasi dibuat?”

Dalam kaitan dengan tiga kebutuhan pasar tersebut, pemerintah juga perlu segera menyiapkan kerangka makro sebagai ekosistem yang kondusif untuk kelincahan dunia pendidikan. Di dalamnya perlu ada sejumlah skenario pengembangan perguruan tinggi. Australia sudah hadir dengan 4 skenario: champion, commercial, virtual, dan disruptive university. OECD juga sudah menyiapkan 4 skenario yaitu open networking, serving local communities, new public responsibility, dan higher education incorporated. Bagaimana skenario perguruan tinggi di Indonesia?

TRANSISI DEMOKRASI

Di tengah tantangan Revolusi Industri 4.0, Indonesia juga menghadapi transisi demokrasi. Demokrasi Indonesia masih dalam tahapan prosedural, belum substansial. Masih banyak nilai-nilai dan perilaku berdemokrasi kita yang perlu disempurnakan agar sistem politik ini bisa lebih matang. Di negara maju yang sudah mapan dan masyarakatnya matang peran kampus mengawal demokrasi tak terlalu signifikan. Sebaliknya, di negara berkembang, dengan kondisi masyarakat yang berpendidikan relatif rendah, kampus sangat dibutuhkan mengawal proses demokrasi melalui pendampingan masyarakat, advokasi, kontrol sosial.

Untuk itu kampus harus punya idealisme dan independensi. Idealisme dan independensi adalah modal pokok yang melandasi universitas tidak mudah terpengaruh berbagai kepentingan, khususnya dalam menghadapi dinamika politik saat ini. Modalnya adalah kemampuan berpikir kritis agar kampus tetap bisa menyuarakan pemikiran independen berbasis kaidah-kaidah ilmiah dan keberpihakan moral.

Di era transisi demokrasi ini, kampus mesti berperan dalam percepatan transformasi masyarakat menuju Society 5.0. Semua itu bisa dimulai dari pembudayaan di kampus itu sendiri. Artinya, kampus punya tanggung jawab moral untuk memberi contoh kepada publik tentang sosok Society 5.0 ini. Jika Kampus tidak mampu mewujudkan hal tersebut, percepatan transformasi masyarakat akan lambat, bahkan kampus bisa ditinggalkan oleh dunia di luarnya.

Tantangan-tantangan tersebut bisa segera kita jawab dengan langkah kolaboratif. Semua aktor dalam pendidikan harus berposisi sama penting sebagai kunci kelincahan dalam harmonisasi pendidikan. Harmonisasi bukan untuk mengompromikan laju kelincahan, tapi untuk mencari solusi dan energi baru mempercepat laju agilitas secara bersama-sama sehingga kampus benar-benar bisa menjadi bagian dari masa depan.

Oleh : Arif Satria - Rektor IPB

Sumber : majalah.tempo.co

Opini Lainnya