Model Closed-Loop Untuk Hortikultura yang Berkeadilan

( kata)

NTP Hortikultura yang Turun

Berita Resmi Statistik awal September 2020 memberikan kabar yang kurang mengenakkan bagi hortikultura Indonesia. Nilai tukar petani (NTP) untuk sektor horitkultura turun secara signifikan. Padahal NTP hortikultura sudah lebih rendah dibandingkan dengan sub sektor lain. Di banyak negara, justru tanaman hortikultura mencakup tanaman hias, tanaman obat serta buah dan sayur yang banyak dilirik pengusaha agribisnis karena nilai ekonominya yang tinggi. Turunnya NTP hortikultura selain permintaan Horeka yang turun, ditambah karena panen yang terjadi serentak di berbagai sentra produksi.

Salah satu karakteristik yang melekat pada usaha pertanian adalah saat produksi pertanian meningkat tajam, harga turun secara signifikan di tingkat petani. Sering tidak seballiknya yang terjadi: saat terjadi kelangkaan produksi, harga di pasar meningkat namun tidak diikuti dengan kenaikan harga secara cepat dan proporsional di tingkat petani, Ini dikenal dengan proses asimetrik pada transmisi dalam pembentukan harga pertanian. Sebagai contoh, pada saat ini harga brokoli sudah mencapai Rp 2.000 per kg di tingkat petani, namun di pasar modern untuk spesifikasi yang sama, harga di atas Rp 30.000 per kg. Bahkan di suatu pusat perbelanjaan di Jakarta, untuk borokoli dengan ukuran batang kecil, dijual dengan harga di atas Rp 100.000, dan ditulis sebagai brokoli impor.

Petani adalah ujung tombak penyediaan kebutuhan pangan di setiap negara. Untuk Indonesia, impor hortikultura masih tinggi, terutama untuk beberapa jenis buah dan sayuran seperti bawang putih, wortel, kentang, jeruk dll. Sepanjang 2019 lebih dari 30 triliun rupiah dibelanjakan untuk impor komoditas tersebut yang sebagian dapat disuplai dari dalam negeri. Keberlangsungan kehidupan petani dan keberlanjutan produksi pertaniannya memerlukan dukungan semua pihak. Di tengah pandemik Covid-19 ini, tentunya persoalan logistik akan menambah rumit persoalan yang secara alami sudah terjadi di usaha pertanian. Beberapa upaya sudah dilakukan oleh pemangku kepentingan seperti mendorong konsumsi produk dalam negeri. Gerakan Bangga Buatan Indonesia; Gelar Buah Nusantara dan Pasar Tani adalah contoh-contoh yang sudah dan sedang dilakukan.

Pada saat terjadi panen hampir serentak di seluruh sentra produksi, tentu berbagai upaya tersebut masih belum cukup untuk mengatasi persoalan jatuhnya harga di tingkat petani. Sebagai konsumen yang tentunya mempunyai kepedulian terhadap persoalan pertanian, terlebih di saat pandemik Covid-19 ini, upaya saling membantu seperti membeli produk tetangga atau petani adalah gerakan yang sangat mulia. Ini sejalan dengan ajaran teori ekonomi, bahwa kita harus belanja lebih saat resesi akan melanda. Dalam sudut pandang lain, membeli adalah bagian charity yang dapat menjadi motivasi setiap orang. Ide ini sebetulnya sudah diterapkan oleh penyedia jasa pemasaran produk pertanian (marketplace startup), namun harga yang dibayar konsumen sering jauh sekali di atas harga pedagang keliling atau pasar tradisional. Upaya yang lebih sistematis diperlukan untuk memecahkan persoalan mendasar.

Model Closed-Loop: Implementasi di Garut

Sektor pertanian sering menghadapi persoalan mismatch antara produksi dan pemasaran. Hal ini terjadi karena adanya time lag yang cukup panjang antara waktu penanaman dengan saat produk dikonsumsi. Jarang sekali ditemui petani atau sekelompok petani dapat memenuhi secara persis apa yang diinginkan oleh pasar, baik dalam hal kuantitas maupun kualitas. Akibatnya, baik petani maupun konsumen sering menghadapi ketidakpastian pasokan dan harga. Ini memerlukan upaya serius yang melibatkan berbagai aktor untuk dapat memberikan perubahan pada produktivitas pertanian dan jaminan pasar.

Upaya optimalisasi baik manajemen produksi dan pemasaran hasil akan lebih mudah bila petani memperoleh contoh nyata yang dapat ditiru dari petani lain. Model closed-cloop ke depan diharapkan dapat menjadi success story yang dapat menjadi salah referensi dalam pengembangan bisnis hortikultura di Indonesia. Salah satu lokasi potensial untuk membangun business case adalah Kabupten Garut. Daerah ini adalah salah satu sentra produksi hortikultura terbesar di Indonesia, khususnya komoditas sayuran seperti cabe, tomat, kentang jeruk, alpukat dll. Dengan dukungan secara serius dari Pemerintah Daerah, seharusnya bisnis pertanian dapat berkembang dengan sangat baik di Kabupaten Garut. Sebagai model bisnis awal untuk closed-loop, yang dkoordinasi oleh KADIN, cabe dipilih karena besarnya tantangan peningkatan produktivitas dan fluktuasi harga yang terjadi baik di pasar maupun di tingkat petani.

Potensi berbagai pihak untuk bekerjasama dalam mengoptimalkan potensi sumberdaya dalam memecahkan berbagai tantangan di sektor pertanian terbuka lebar. Keberadaan para aktor di sepanjang rantai nilai pertanian, mulai dari hulu sampai ke hilir, from the field to the table, tidak boleh dipandang selalu dari sisi kompetisi, yang dalam slogan lama akan dapat menciptakan efisiensi. Dengan perkembangan situasi global dan domestik yang semakin vulnerable dan uncertain, maka sinergi antar aktor untuk menciptakan iklim berusaha yang berdaya saing, sekaligus berkeadilan, hendaknya lebih ditonjolkan dalam era pasca pandemi covid, termasuk dalam bidang pertanian.

Dari sisi sarana produksi pertanian, PT. Ewindo sebagai produsen utama benih hortikultura sudah menjadikan Garut sebagai pasar utama. Dari data penjualan benih selama pandemi covid, pembelian oleh petani untuk benih hortikultura ternyata meningkat tajam. Penggunaan benih yang bemutu merupakan kunci awal dari sukesnya budidaya komoditas pertanian. PT. Ewindo bahkan sudah akan me-release benih baru cabe yang tahan virus; dapat dikatakan pertama di Indonesia. Berbagai enabler ini tentunya dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pelaksanaan model closed-loop hortikultura di Kabupaten Garut.

Penggunaan benih bermutu harus diikuti pengolahan tanah dan pemupukan secara tepat. Peran akademisi dalam rangka menuju pertanian presisi sudah dapat dimulai di sini. Perguruan Tinggi seperti IPB dan UNPAD yang dekat dengan Garut dapat langsung mendukung. Kebutuhan hara tanah seharusnya ditentukan berdasarkan pengujian yang bersifat spesifik lokal. Dengan biaya yang tidak terlalu besar, pengujian unsur N, P dan K sudah menjadi keharusan sebelum memutuskan jenis pupuk apa yang paling tepat diaplikasikan. Penggunaan pupuk secara tepat sangat menentukan keberhasilan bisnis pertanian. Dengan benih yang bermutu dan aplikasi pupuk yang lebih presisi, maka tanaman akan menjadi lebih tahan terhadap serangan penyakit, sehingga selain meningkatkan produktivitas juga mengurangi biaya penggunaan obat.

PT. Pupuk Kujang Cikampek sudah mejadikan Garut sebagai lokasi tidak hanya untuk pemasaran pupuk bersubsidi, juga untuk pupuk non-subsidi. Upaya pergeseran ini tentunya sangat positif untuk membantu sebagian alokasi anggaran Pemerintah ke dukungan faktor produksi atau infrastruktur pertanian lain. Pupuk yang dipasarkan secara komersial ini dirancang secara khusus sesuai dengan karakter dari jenis tanaman tertentu. Untuk Tanaman hortikultura, kebutuhan pupuk sering masih harus didatangkan dari impor. Dengan berproduksi di dalam negeri ini akan membantu upaya menjaga keseimbangan neraca perdagangan nasional. Dalam closed-loop, PT Pupuk Kujang Cikampek berperan dalam pendampingan aplikasi pupuk sehingga hasil lebih optimal.

Perbaikan penggunaan faktor produksi utama dalam budidaya cabe oleh petani di Garut harus diikuti dengan proses panen dan penanganan pasca panen dengan baik, serta pasar yang menjadi muara dari produksi petani harus disiapkan dengan baik. Untuk dapat menjamin keberlanjutan dari proses pemasaran yang efisien, dukungan kelembagaan petani yang mapan sangat diperlukan. Paskomnas misalnya yang mempunyai jejaring pasar induk, dapat melakukan kesepakatan yang bersifat jangka panjang dengan kelembagaan petani yang dibentuk tersebut. Untuk alternatif pemasaran digital untuk menjangkau konsumen individu dan atau bisnis, 8Villages juga dapat berperan sehingga jangkauan pasar dari produk cabe petani akan lebih jauh dan lebih dalam. Tidak hanya untuk kebutuhan cabe segar, industri seperti PT. Indofood juga dapat melakukan kontrak dengan petani untuk kebutuhan pasokan secara rutin dalam jumlah yang memadai.

Pengembangan model closed-loop harus didukung oleh teknologi informasi (ICT) yang memadai. Mercy Corp Indonesia yang merupakan mitra pelaksana Bantuan Teknis ADB sedang menfasilitasi penggunaan ICT untuk memperkuat peran penyuluh pertanian di daerah beririgasi, termasuk di Garut, mencakup teknologi pertanian mulai dari calendar tanam, informasi cuaca, penyediaan benih, pemupukan, serta pengendalian hama dan penyakit sampai kepada informasi harga dan akses pasar dapat dilakukan secara digital. Sebagai contoh 8 Villages sebuah perusahan teknologi pertanian dengan aplikasi Petani, sudah dapat mendiseminasi teknologi pertanian seperti kalender tanam dan informasi harga pangan ke dalam telepon pintar milik penyuluh dan petani.

Model closed-loop bersifat tidak kaku. Peran dari faktor lain seperti perusahan-perusahan penyedia obat, penyedia jasa asuransi pertanian, pembiyaaan dll. tentu akan sangat bermanfaat. Value co-creation dari model dapat disusun setidaknya untuk meningkatkan kinerja bisnis hortikultura melalui sinergi antar pemangku kepentingan dalam budidaya cabe oleh petani. Peningkatan produktivitas dan tingkat harga yang lebih tinggi yang diterima oleh petani saat panen adalah contoh dari keluaran yang terukur. Dalam implementasi kegiatan ini tentunya petani bukan menjadi obyek. Dalam hal ini peran petani tokoh atau champion sangat penting. Dengan keberadaan duta petani milenial, Eptilu bersama-sama dengan ratusan petani hortikultura siap menjadi bagian sentral. Mereka akan terus didorong oleh para penyuluh yang sudah dilengkapi dengan fasilitas ICT. Kementerian Koordinator Perekonomian sedang dan akan terus mengkoordinasikan berbagai Kementerian dan Lembaga: Bappenas, Kementan, Kemendag, Kemenkop dan UKM, Kemendes dan Kementerian BUMN, bersama-sama KADIN, IPB dan Unpad untuk dapat menyukseskan misi besar ini.

Kita harus selalu berupaya meningkatkan nilai ekonomi setiap jengkal lahan yang ada di Indonesia. Sering kita merasa Indonesia memiliki lahan pertanian (arable land) yang sangat luas. Secara total luasan Indonesia berada pada urutan ke-13 dari 193 negara. Dari luas per kapita, Indonesia ternyata menempati urutan ke-128, di bawah negara-negara lain yang sering kita anggap kurang lahan pertaniannya. Jawa Barat saja, mempunyai populasi lebih dari dua kali Australia, negara yang menempati urutan pertama dari luas lahan pertaanian per kapita di dunia. Bisa dibayangkan keberadaan petani kita yang “gurem”, yang harus terus didampingi, dan betapa tingginya nilai mempertahankan lahan pertanian secara berkelanjutan.

Sumber : Pangannews.id

Opini Lainnya