Ditengah Wabah, Pertanian Harus Jalan Terus

( kata)

Sejak lebih dari dua pekan ini berbagai pembatasan telah diberlakukan di masyarakat mengantisipasi penularan wabah agar dapat terkendali. Kantor-kantor telah diminta tutup sementara waktu dan pekerjanya diminta bekerja dari rumah. Sekolah sudah diliburkan lebih dulu. Siswanya diminta belajar dari rumah. Beberapa daerah telah mulai membatasi mobil yang melintas di wilayahnya dan terus akan meluas. Bahkan ada daerah yang sempat benar-benar menutup jalan masuk ke wilayahnya dengan beton pembatas. Para sopir truk pembawa sayur sempat membuat video mengancam tidak akan mengangkut lagi sayuran, karena waktu tempuh jadi bertambah dan kerap diperiksa dijalan, membuat biaya perjalanan menjadi membengkak. Selain juga ada ketidakpastian bahwa hasil pertanian yang dibawa dapat sampai dan diterima di tempat tujuan.

Pada saat yang sama, kebutuhan makan bagi warga masyarakat tidak mungkin berhenti. Jumlah orang yang makan tidak berubah banyak. Tapi tempat memperoleh makanan makin hari makin terbatas. Hypermart ditutup. Supermarket jam bukanya dibatasi. Pasar Induk kabarnya juga tutup. Pasar tradisional beroperasi sangat minimal seperti kucing-kucingan karena diserukan untuk menghindari kerumunan. Bahkan tukang sayur keliling pun jadi sulit ditemukan.

Dua pekan ini berbagai produk sayuran, cabe, bawang merah, buah-buahan mulai tidak terangkut keluar dari kebunnya. Satu Gapoktan Nenas di Subang kebingungan karena jadwal panen yang sudah diatur rapi supaya dapat kontinyu menyuplai ke pasar dan industri ternyata disetop sepihak oleh industri dan pembelinya di pasar. Bahkan sempat buah Nenas nya ditawarkan secara gratis. Cabe yang di kota harganya sangat mahal, di kebun dijual Rp 5.000 per kg tidak ada yang beli. Begitu juga berbagai sayuran di berbagai sentra produksi di daerah-daerah.

Para petani mulai merumahkan buruh tani nya. Bekerja terus artinya mengeluarkan biaya terus. Padahal pemasukan dari hasil penjualan belum tentu. Belum lagi info tentang social distancing juga sudah sampai ke desa-desa. Beberapa daerah juga sudah ada warganya yang menyandang predikat ODP atau PDP dan bahkan sudah ada yang positif Covid-19. Di era medsos ini berbagai berita yang positif sampai negatif berseliweran setiap hari hingga ke desa-desa.

IPB sudah mempublish hasil kajian ilmiah tentang Model Prediksi Covid-19 di Indonesia yang menyatakan puncak wabah di Indonesia akan terjadi sekitar April dan Mei 2020. Sedangkan BIN memproyeksikan puncak wabah Covid-19 di Indonesia baru akan terjadi pada akhir Juli 2020 sebagaimana disampaikan oleh Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dihadapan DPR secara online. Dapat diperkirakan keadaan baru akan pulih setelah itu, yang tentu akan membutuhkan waktu lagi. Ada yang memperkirakan pemulihan akan terjadi pada akhir 2020, bahkan ada juga yang memperkirakan hingga akhir tahun tahun 2021 yang akan datang.

Tampaknya kebijakan khusus pemerintah dalam bidang pertanian sangat mendesak. Dengan tujuan pasokan pangan tetap aman selama masa wabah ini hingga pemulihannya nanti. Aman dari sisi jumlah pasokan dan ketersediaannya di masyarakat. Tidak terbatas pada makanan pokok seperti beras, tetapi juga sayur dan buah serta lauk-pauk nya. Artinya juga perlu kepastian kelancaran distribusi dan transportasinya. Petani harus didorong tetap berproduksi, namun dengan diberikan kepastian pasar dan keamanan bekerja. Beberapa bulan kedepan mengandalkan import kelas tidak mungkin, karena semia negara juga akan mengalami penurunan produksi.

Tidak bisa tidak, pertanian harus jalan terus tidak boleh berhenti, ditengah wabah dan berbagai pembatasan saat ini. Untuk mengamankan para pekerja pertanian, perlu disusun dan disosialisasikan protokol khusus bagaimana bertani ditengah wabah Covid-19. Social distancing bagi pekerja di bidang pertanian tampaknya lebih mudah dilakukan dibanding di perkotaan, namun tetap dengan pengawasan yang ketat. Sistem pemasaran konvensional tampaknya akan sulit dilakukan selama wabah ini, untuk itu berbagai platform online pemasaran hasil pertanian yang sudah ada menjadi pilihan tepat. Platform-platform tersebut perlu dioptimalkan dan didukung. Selain itu perlu pula disusun sistem distribusi pangan di tengah wabah, sehingga produk hasil pertanian dapat diterima masyarakat dengan mudah dan harga yang terjangkau.

Bogor, 5 April 2020

Al fakir
Nursyamsu Mahyuddin (petani)
Alumni IPB (MP 18)

Opini Lainnya