Covid-19: Momentum Kebangkitan Hortikultura

( kata)

Oleh: Muhammad Firdaus | Guru Besar Ilmu Ekonomi IPB

Respon Kebijakan terhadap Covid-19

Setidaknya ada dua arah kebijakan ekonomi dalam merespon pandemi Covid-19: pertama, mencegah penurunan yang terlalu besar dari serapan domestik terhadap produksi nasional; kedua mencari berbagai terobosan untuk menjaga stabilitas neraca perdagangan. Yang kedua dirasa lebih berat, karena pandemi Covid-19 mengakibatkan kontraksi permintaan global. Dari dua negara yang terdampak paling besar, yaitu China dan AS, sudah mencakup hampir sepertiga total nilai ekspor Indonesia. Meskipun ada peningkatan impor produk pertanian dari Indonesia oleh beberapa negara di sepanjang Maret 2020, namun ini ditenggarai lebih kepada upaya mitigasi kemungkinan krisis pangan global yang mulai diprediksi oleh lembaga dunia seperti FAO dan IFPRI. Kebijakan relaksasi impor juga diambil, semata-mata hanya untuk menjamin kebutuhan bahan baku dan beberapa produk konsumsi akhir, sehingga tidak menambah beban masyarakat karena kenaikan harga. Untuk itu arah kebijakan pertama harus betul-betul didukung semua phak, mulai dari sub sistem produksi yang masih tetap harus berjalan normal; sub sistem distribusi yang minimum hambatan serta sub sistem informasi yang dapat diakses dengan baik oleh semua pelaku ekonomi.

Adanya pandemi Covid-19 menyadarkan kita pentingnya mengembangkan lebih beragam sektor perekonomian serta menarik investasi baik dari dalam maupun luar dari berbagai pihak. Dari jalur perdagangan, kita perlu lebih mendiversifikasi pasar tujuan ekspor dan negara asal impor bahan baku. Tentu tidak kalah penting, pemanfaatkan local wisdom baik dalam menjalankan sistem produksi maupun konsumsi. Nilai-nilai pembangunan berkelanjutan semakin terasa lebih urgens untuk diimplementasikan. Indonesia yang kaya dengan ekoregion tentunya dapat mewujudkan hal ini. Ini mencakup berbagai sektor perekonomian, termasuk hortikultura yang peran pentingnya masih belum disadari oleh sebagian kalangan.

Pentingnya Hortikultura dari Sisi Kesehatan

Sudah beberapa tahun WHO mengkampanyekan pola konsumsi pangan sehat, dikenal dengan healthy diet. Ini dilakukan untuk mengurangi angka gizi buruk dan mencegah penyakit tidak menular (PTM), yang sangat relevan dengan kondisi Indonesia. Jamak diketahui bahwa prevalensi balita yang stunting di Indonesia jauh di atas rekomendasi angka maksimum WHO (20%). Sedangkan PTM, secara berurut mulai dari strok, jantung dan diabetes saat ini menjadi perantara penyebab kematian paling banyak di Indonesia. Jika diambil data konsumsi pangan sehat seperti protein hewani, kacang-kacangan serta sayur dan buah, maka posisi Indonesia berada jauh di bawah angka ideal yang direkomendasikan oleh WHO. Sebaliknya, untuk pangan seperti gula dan garam, di Indonesia konsumsi per kapita sudah sangat tinggi; produk yang sudah jadi komitmen gobal untuk dikurangi sebesar 30% sampai tahun 2025.

Untuk sayur dan buah, WHO merekomendasikan total keduanya dikonsumsi seseorang minimal 146 kg per tahun, untuk mencegah PTM dan menjamin terpenuhinya kebutuhan tubuh akan vitamin dan serat. Tentunya dalam kondisi Pandemi Covid-19 ini, kebutuhan terhadap zat gizi seperti ini semakin tinggi. Beberapa kajian awal dari peneliti IPB menunjukkan bahwa buah seperti jeruk dan jambu merah; termasuk tentunya tanaman obat seperti empon-empon, sangat baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh .

Angka konsumsi per kapita sayur di Indonesia berdasarkan data SUSENAS sekitar 52 kg per kapita di tahun 2017. Dibandingkan dengan negara lain seperti Vietnam, China, Amerika Serikat dan Korea Selatan; tingkat konsumsi orang Indonesia ini kurang dari separonya. Tentu saja, banyak populasi yang memilih menjadi vegetarian menjadi salah satu penyebab tingginya konsumsi sayur di negara-negara tersebut. Untuk buah, menurut data BPS tingkat kosumsi berfluktuasi selama 5 tahun terakhir; mencapai 38 kg/kapita di 2015 (didorong oleh panen raya rambutan), lalu turun ke 31 kg di 2017. Perbandingan konsumsi buah orang Indonesia dengan beberapa negara lain menunjukkan kondisi yang lebih buruk dibandingkan dengan konsumsi sayur. Beberapa buah seperti pisang, pepaya, jeruk dan salak mencakup lebih dari separo dari konsumsi total buah orang Indonesia.

Di negara maju seperti Eropa dan AS, kampanye mengkonsumsi buah dan sayur sudah diperkenalkan kepada anak-anak melalui iklan layanan sosial di televisi. Program five a day misalnya, dirancang semenarik mungkin sehingga sejak dini sudah tertanam dalam benak, pentingnya mengkonsumsi sayur dan buah. Dari hasil kajian, sekitar dua pertiga masyarakat di Eropa sudah pasti mengkonsumsi sayur dan buah setiap hari. Secara rerata, 15% menkonsumsi sayur dan buah di atas 400 g per hari (5 porsi). Di AS, konsumsi per kapita sayur dan buah yang sudah lebih dari 5 kali Indonesia, juga berfluktuasi dari tahun ke tahun namun tetap sangat tinggi. Penurunan disebabkan oleh berkurangya konsumsi jus buah saat sarapan pagi (untuk menghindari gula) dan kebiasaan makan malam di luar rumah. Berbagai aneka beri, pisang dan apel adalah jenis buah yang paling diminati konsumen di sana.

Selama masa pandemi Covid-19 ini terjadi kenaikan permintaan terhadap sayur dan buah melalui market place dan pasar modern, meskipun pasar luber tradisional tetap berjalan di banyak kota pada awal pagi hari; bahkan di wilayah yang sudah menerapkan PSBB. Setidaknya dengan lebih banyak yang menetap di rumah; pengeluaran rumah tangga berubah sebagian dari alokasi untuk tranportasi ke makanan dan minuman. Tentu saja ini tidak dapat mengkompensasi turunnya permintaan dari horeka maupun industri makanan dan minuman terhadap produk sayur dan buah. Namun munculnya kesadaran yang tinggi akan pentingnya sayur dan buah bagi kesehatan harus dipertahakan ke depan.

Peningkatan konsumsi buah dan sayur di Indonesia harus terus didorong. WHO menyarankan bahwa konsumsi sayur dan buah dapat ditingkatkan dengan beberapa cara, seperti: mendorong untuk setiap kali makan disertai dengan sayur dan buah; menjadikan buah segar sebagai cemilan dan mengkonsumsi buah yang sedang musim serta jenis buah yang beragam. Di Brazil ada inovasi misalnya bagi rumah tangga yang mampu memisahkan sampah organik dan anorganik akan diberikan insentif dalam bentuk buah seperti pisang. Promosi baik yang besifat below maupun above the line, harus dijalankan dengan baik di Indonesia.

Peran Hortikultura dari Sisi Ekonomi

Pilihan berbisnis di sektor pertanian sangat banyak. Tidak ada yang secara mutlak unggul jika dibandingkan satu dengan yang lainnya. Sebagai contoh bisnis sawit jika hanya mengandalkan penjualan tandan buah segarnya, maka pendapatan bersih petani per bulan tidak jauh berbeda dengan tebu atau jagung. Tetapi jika nilai tambah sawit dapat dinikmati juga oleh petani, apalagi industri dibuat sebagai sistem yang zero waste. maka pendapatan bersih bisa berlipat ganda. Demikian pula dengan tebu dan jagung; yang di beberapa negara lebih maju dalam pertanian seperti Thailand dan Brazil, bukan hanya dijadikan gula atau pakan ternak, namun lebih utama diekspor sebagai bahan bakar nabati.

Untuk hortikultura, sebagian besar komoditas jika dapat mencapai tiga perempat saja dari produktivitas ideal, sudah dapat memberikan pemasukan yang sangat besar bagi petani. Sebagai contoh, dari model bisnis yang dikembangkan oleh Bank Indonesia bersama PKHT IPB; untuk cabe merah, dengan produktivitas 0,9 kg per pohon dan harga jual petani Rp 12 ribu per kg sudah memberikan pendapatan rata-rata per bulan Rp 15 juta per hektar, dalam satu siklus budidaya sampai panen selesai selama 6 bulan. Untuk bawang merah, dengan produktvitas diambil nilai tengah saja antara musim panen Agustus dengan musim panen Februari; maka produksi 16 ton per hektar dan harga jual Rp 12 ribu per kg akan memberikan penerimaan bersih lebih tinggi lagi yaitu Rp 20 juta per hektar per bulan, untuk satu siklus empat bulan budidaya sampai panen. Ini adalah dua komoditas yang sudah menjadi konsumsi harian awam. Untuk sayur dan buah, masih banyak peluang bisnis lain seperti durian, tomat ceri dll. yang bila dibudidayakan secara presisi, akan memberikan keuntungan lebih tinggi daripada usaha non pertanian.

Indonesia dengan kekayaan ekoregion-nya, punya potensi yang besar untuk mengusahakan komoditas hortikultura lain, yaitu tanaman hias dan biofarmaka. Dibandingkan dua negara berkembang saja, yaitu Columbia dan Equador, Indonesia masih tertinggal jauh untuk industri florikultur. Di banyak negara, seperti Thailand dan Belanda, tidak hanya bunga potong, kebutuhan untuk bunga jenis daun dari hotel dan restoran di Timur Tengah disuplai sepenuhnya oleh kedua negara tersebut. Sebagian sumber indukan berasal dari Indonesia. Dukungan kebijakan tentunya sangat diperlukan agar hal ini juga dapat ditiru oleh Indonesia. Ini adalah contoh pengembangan produk dan pasar, tidak saja untuk saat ini namun juga ke depan.

Selama Covid-19, secara nyata terbukti bahwa berbisnis biofarmaka seperti empon-empon, mendatangkan manfaat ekonomi yang sangat tinggi. Lonjakan permintaan produk tanaman obat mencapai 10 kali lipat di pasar-pasar modern. Indonesia memiliki local wisdom yang sangat kuat, sehingga seharusnya ke depan jalur pengobatan dengan menggunakan herbal dapat lebih berkembang bahkan menjadi jalur kedokteran formal seperti di China.

Nilai ekonomi dari sektor hortikultura yang tidak kalah menariknya adalah dari sisi penyediaan benih. Menghasilkan benih bisa mendatangkan keuntungan puluhan kali dari menghasilkan produk segar. 100 meter persegi tanaman timun hanya menghasilkan keuntungan Rp 100 ribu, namun jika dipakai untuk produksi benih, pendapatan bersih tidak akan kurang dari RP 10 juta. Hal ini yang mendasari pengembangan sektor pertanian di Yogyakarta. Salah satu arah utama adalah untuk memproduksi benih karena ketersediaan lahan yang sangat terbatas, sehinga pemerintah daerah mempunyai seed center yang dikelola dengan baik. Berbeda dengan komoditas lain seperti perkebunan yang memerlukan satu bibit untuk jangka waktu puluhan tahun; kebanyakan petani hortikultura khususnya sayur, tanaman obat, tanaman hias dan beberapa jenis buah, melakukan budidaya minimal dua sampai tiga kali setahun. Bahkan untuk sayuran daun, ada yag dipanen setiap tiga minggu. Dengan demikian perputaran penjualan benih hortikultura sangat tinggi berdampak ekonomi secara luas.

Peran Hortikultura dari Sisi Sosial Lingkungan

Secara total untuk data tahun 2017, ukuran ekonomi sektor hortikultura di tanah air sekitar Rp 136 T. Nilai ekspor sayur dan buah separo dari nilai impornya. Sedangkan tanaman hias dan obat menyumbangkan devisa bersih meskipun tidak sebesar buah. Nilai ekonomi ini berkorelasi kuat dengan tingkat penyerapan tenaga kerja, manakala yang dikembangkan bersifat inklusif. Indikator pembangunan ekonomi yang sudah dicanangkan Menteri Bappenas sejak tiga tahun lalu, contoh implementasinya adalah dalam pembangunan agribisnis hortikultura di Kabupaten Malang. Di daerah ini pariwisata sebagai sumber prtumbuhan ekonomi baru diintegrasikan dengan pengembangan kawasan hortikultura rakyat. Dengan demikian usaha mikro dan kecil dapat tumbuh: memasarkan produk hortikultura segar maupun olahan. Peran UMKM hortikultura dalam penyerapan tenaga kerja sangat penting. Di sisi budidaya, perawatan yang lebih intensif dibandingkan tanaman lain seperti pewiwilan sebagai titik kritis dalam budidaya cabe harus dilakukan secara manual; pemupukan harus benar-benar berimbang untuk mendapatkan hasil panen yang berkualitas serta penanganan pasca panen yang harus telaten karena produk yang lebih perishable. Kemitraan antara usahta besar dengan UMK juga sudah berjalan dengan baik di hortikultura, semisal pola kerjasama antara GGP dengan petani nenas di Subang dan Blitar. Memang berbeda dengan kondisi di Filipina atau Thailand, dimana orchard atau perkebunann buah multinasional sangat mendominasi.

Dari sisi lingkungan, beberapa budidaya hortikultura memang harus masih diperbaiki. Sebagian sayuran ditanam di dataran tinggi tanpa disertai pengelolaan lahan yang baik. Selain kualitas lahannya semakin tergerus, bahaya longsor dan banjir menjadi langganan di beberapa daerah setiap tahun. Namun untuk beberapa jenis buah unggulan dari daerah tropis semisal manggis, durian atau nangka merupakan tanaman yang hidup di daerah hulu sehingga membantu sustainabilitas pasokan air bagi daerah di hilir yang merupakan perkotaan. Di daerah-daerah lahan marjinal, berbagai tanaman buah tahunan dapat dibudidayakan; tentunya dengan pengelolaan yang tepat, sehingga tidak hanya buah yang dipanen setiap tahun; namun juga pada akhir umur ekonomis, kayu dari tanaman buah sangat baik untuk furnitur dan material rumah. Penanaman buah memang sering menjadi momen dalam berbagai acara hari linkungan. Tentunya dari sisi lingkungan, keberadaan taman-taman bunga yang juga merupakan agroeduturisme, memberikan manfaat fiungsional pertanian yaitu eksternalitas positif bagi masyarakat.

Menata Pembangunan Hortikultura di Indonesia

Pandemi Covid-19 membawa makna bahwa hortikultura sangat penting, setidaknya bagi kesehatan; kreasi nlai ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Persoalan utama pembanguan hortikultura di Indonesia adalah sulitnya memenuhi kualitas yang seragam seata kuantitas yang cukup dan tersedia secara lebih kontinyu. Ini disebabkan pengembangan hortikultura masih dilakukan secara tradisional pada lahan rakyat yang skalanya kecil; tidak jarang sebagai tanaman pengganti saat bera dilakukan. Penggunaan teknologi modern sudah harus lebih banyak dilakukan, tanpa mengabaikan pertanian rakyat yang tetap menjadi ujung tombak produksi. Penguatan kelembagaan, seperti kerberhasilan Gapoktan cabe di Sleman yang mampu mengelola 6 ribu lebih petani cabe, dengan suplai 100 sampai 200 ton sebulan di sepanjang tahun. Covid-19 membawa hikmah bahawa perlu rethinking dan reshaping pembangunan hortikultura di Indonesia: mulai dari sistem budidaya dengan pola kawasan untuk satu varietas yang seragam; kelembagaan yang kokoh dan mengakar serta rantai pasok yang efisien yang memberikan manfaat ekonomi secara proporsional kepada semua aktor. Dengan mendukung sektor hortikultura secara serius, baik untuk penyerapan pasar domestik maupun tujuan ekspor, akan berkontribusi sebagai salah satu kompensasi terhadap turunnya kunjungan wisman dan permintaan karena kontraksi global. Ini hanya dapat dicapai bila sinergi antara pengambil kebijakan, pelaku usaha, penggiat sosial dan akdemisi terus ditumbuhkan, terutama untuk melawan dampak jangka pendek dan jangka panjang Covid-19.

Sumber : pangannews.id

Opini Lainnya