Catatan Friday Talk Vol 24 2020 HA IPB: Menjadi Pengusaha Tangguh

( kata)

Oleh : M. Firdaus

Friday Talk HA IPB 24 Januari 2020 tumpah ruah dihadiri lebih dari 100 alumni mulai edisi kolonial sampai kaum milenial, mulai angkatan belasan sampai angkatan 54 dan 55 IPB hadir. Tidak salah karena tema yang diusung sangat menarik.

Alumni kelahiran Buton, biasa dipanggil Akri, pendiri sekaligus CEO memulai presentasi dengan menceritakan bagaimana bisnis dimulai dengan "modal nekat", terlebih bergelut dengan produk IT yang sebagian besar diimpor, dimana bisnis persis dibangun saat krismon melanda (1998). Selama 21 tahun bisnis yang sebenarnya dalam teori persaingan pasar masuk kategori "low entry barrier", mampu bertahan dan terus bertumbuh sesuai dengan nama sejak awal didirikan: ZOOM.

Beberapa pelajaran dapat dipetik dari acara dialog kemarin. Pertama, jejaring berperan siginifikan dalam membangun dan mengembangkan bisnis. Pada kali pertama dibangun, peluang bisnis yang dilihat adalah kebutuhan layanan IT profesional di dalam dan sekitar kampus. Seperti kebanyakan wirausahawan pemula, permodalan menjadi kendala dimana lembaga keuangan formal tentu saja tidak bersedia mensuplai. Maka Akri dkk. dengan "percaya diri" datang kepada dosen untuk memperoleh dukungan pendanaan. Saya membayangkan mereka pasti akan diinvestigasi mendalam, karena dosen ini salah satu kolega di kampus saat kami sama-sama menjadi pimpinan di fakultas dengan tugas menangani bidang keuangan dan sumberdaya. Saat ini banyak anak muda yang baru lulus menawarkan kerjasama investasi, namun banyak yang tidak SMART dalam membuat visi bisnisnya, beberapa di antara bahkan menghilang entah kemana setelah mendapat dukungan pendanaan.

Kedua, konsumen yang menjadi target pasar utama bisnis Akri dkk., selain individu utamanya adalah binis/institusi. Kotler menerangkan dengan sangat baik perbedaan karakteristik keduanya. Saya yakin, manajemen Zoom sangat faham perbedaan perilaku seperti permintaan konsumen bisnis yang lebih inelastis daripada individu, hubungan yang lebih tidak berjarak dengan pelanggan, dan tentu saja skala pembelian yang jauh lebih besar sehingga efisiensi usaha akan lebih mudah tercapai. Pemahaman ini sangat penting, dan di negara ini kita sering mengabaikan. Misalkan untuk sumber pertumbuhan baru seperti pariwisata yang terus dikembangkan, orientasi masih selalu pada wisata "leisure". Wisata "bisnis" seperti MICE dimana tingkat "spending" wisatawan minimal sepuluh kali lipat wisatawan "leisure" luput dari perhatian dan dukungan riil kebijakan. Negara tetangga dan lainnya yang menjadikan pariwisata sebagai sumber pertumbuhan ekonominya, gencar dan telah lama memprioritaskan pengembangan wisata MICE. Mudah-mudahan kita belum terlambat membenahinya.

Zoom banyak melayani kebutuhan IT dari institusi Pemerintah dan BUMN yang merupakan "captive market", dimana saat ini harus lebih banyak mengalokasikan pengeluaran bukan untuk belanja pegawai. Saya menduga pihak manajemen tentu pernah ditawari oleh "oknum' untuk "mark-up" harga, manipulasi suku cadang; salah satu modus utama dalam beberapa temuan kasus korupsi. Tetapi Akri mengemukakan bahwa salah satu "value co-creations" yang ditawarkan Zoom adalah produk yang berkualitas dengan proses jual beli mengacu pada legalitas. Dalam bahasa lainnya, saya melihat Zoom sudah mengimplementasikan GCG, yang merupakan investasi jangka panjang perusahaan. Amanah adalah kata lain dari tranparansi dan akuntabilitas, sebagian dari pinsip tata kelola yang baik; ini yang terus dijaga oleh Zoom selama 21 tahun.

Ketiga, Zoom masuk dalam Wajib Pajak besar di wilayah Jawa Barat III. Ini adalah wujud kesetiaan pada NKRI, dan tentunya menjadi "selling point" dari perusahaan sesuai dengan konsumen utama yang dilayani. Bila mengingat tulisan Friedman tahun 1970: CSR dipandang sebagai bukan kewajiban perusahaan, dimana perushaaan hanya mempunyai beban kepada "shareholder"-nya saja, maka Zoom sudah memberikan teladan bahwa berbakti kepada Nusa bangsa bisa dengan menjadi pembayar pajak yang baik. Sering di kelas kuliah saya menyampaikan "we must thank Mama Dedeh or Syahrini". Mereka mungkin setiap bulan menyumbang ke negara ratusan juta bahkan milyar rupiah, yang sebagian menjadi sumber dana beasiswa Bidik Misi mahhaiswa. Akri juga menambahkan, dalam bekerja untuk perusahaan selalu mengingat ada doa-doa dari anak atau istri karyawan di balik setiap rupiah penjualan produk Zoom. Ini lah yang disebut Friedman tadi: perusahaan memperoleh profit, lalu membayar pajak ke negara dan para pekerja di sana mendapatkan gaji serta bonus yang memadai.

Inilah iklim bisnis yang sedang dan selalu diupayakan untuk terus diperbaiki negara: mengurangi berbagai hambatan birokrasi sehingga akan lebih banyak wirausahawan baru, karena negara ini masih memerlukan setidaknya tiga kali lipat jumlah pengusaha dari sekarang. Zoom adalah contoh, alumni IPB bisa sukses berusaha apa saja, termasuk IT; dan sekai-kali bukan salah pengajaran di IPB atau kurikulumnya, karena alumni IPB bisa apa saja, APALAGI pertanian.

Bisnis Lainnya