Catatan Friday Talk 1 2020 HA IPB: Better Tilapia

( kata)

Oleh : M. FIRDAUS

Hari ini, sore Jumat pertama 2020 alhamdulillah terisi dengan majelis ilmu, pada acara kebanggaan Himpunan Alumni IPB: Friday Talk (FT). Acara yang berlangsung setidaknya sebanyak 20 kali sepanjang 2019, selalu menghadirkan alumni IPB kebangaan almamater yang sudah melanglang buana di kancah dunia usaha, birokrat maupun penggiat masyarakat. Untuk tahun 2020, pengurus HA IPB merencakan setidaknya 40 kali FT sesuai arahan Ketua Umum. Dan menurut hemat saya, baiknya acara FT mendatang lebih banyak diiisi oleh alumni IPB yang berkecimpung di dunia bisnis: swasta, koperasi, BUMN dan BUMD. Tentunya penggiat masyarakat, birokrat, peneliti dan akademisi juga perlu membagi pengalaman kepada sejawat, adik-adik kelas dan masyarakat umum.

Seperti biasanya, executive lounge di Gedung Alumni IPB terisi penuh sampai meluber keluar pintu. Antusiasme peserta dari berbagai profesi, pebisnis pemula dan mapan, periset pasar sangat terasa pada saat tanya jawab berlangsung antara audiens dan nara sumber; khas sekali alumni IPB yang kaya dengan analisis. Bahkan peluang kerjasama bisnis pin muncul.

FT tadi diisi oleh dua alumni IPB sukses yaitu Ratna Yudtythia dan Yeri Afrizon dari Regal Springs Indonesia (RSI). Nara sumber adalah senior marketing manager pada perusahaan multinasional milik Swiss tersebut. Setidaknya ada tiga pelajaran penting yang dapat saya petik dari acara tadi

Pertama, untuk memajukan pertanian dalam arti luas termasuk di Indonesia termasuk untuk mendorong ekspor, diperlukan investasi. Dana ini dapat berasal dari masyarakat Indonesia atau perusahaan milik asing. Idealnya tentu dari dalam, namun untuk beberapa kasus transfer teknologi masih diperlukan dari PMA. Sebagai contoh pada acara tadi, Tilapia yang dipasarkan oleh RSI sudah mengantongi di antaranya dua sertifikat yaitu BAP dan ASC yang menunjukkan bahwa produksi sudah bersifat ramah lingkungan, traceable dan juga social responsible. Budidaya nila yang diolah menjadi produk RSI tersebut dilakukan di Danau Toba dan daerah lain sudah mendapat pengakuan dunia internasional termasuk Menteri Susi. Penyerapan tenaga kerja yang besar dan tentu saja saat menjadi produk yang siap dikonsumsi, tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) mendominasi. Memang inilah contoh jalur yang tepat dalam membangun ekonomi negeri. Ini adalah perwujudan model pembangunan industri menurut Salter Corden. Menurut hemat saya, hal ini dapat ditonjolkan ole h RSI dalam memasarkan produknya. Karena banyak konsumen yang lebih berhasrat membayar produk karena "values" seperti yang diberikan oleh Tilapia ini.

Kedua, produk pertanian (perikanan) bersifat bulky, voluminous dan perishable. Pengolahan produk ikan nila menjadi fillet adalah upaya untuk memperpanjang shelf life dan mengurangi sifat voluminous saat disimpan dalam lemari pembeku. Secara ekonomi ini berarti permintaan menjadi lebih elastis (tugas IPB dan alumni). Tentunya dengan menjadi fillet, bagi konsumen terutama wanita karir di perkotaan, kepraktisan menyebabkan permintaan akan terus ada. Di Indonesia kaum the have yang setidaknya 20% dari penduduk di perkotaan merupakan segmen pasar utama yang dapat dibidik. Namun dengan fillet berberat bersih 200 gr yang dibandrol dengan harga Rp 35 ribu, peluang merebut hati konsumen golongan menengah bukan tidak mungkin. Informasi bahwa dari 1 kg ikan nila, bila diolah hanya diperoleh daging maksimum sepertiga dari berat total akan dapat mempengaruhi willingness to pay konsumen untuk beraksi saat mendekati produk yang didisplay. Pilihan media promosi below the line seperti yang disampaikan nara sumber adalah tepat. Konsumen Indonesia yang tergolong "hemat" harus diyakinkan dengan pengalaman bahwa produk yang dibayar memang memberikan manfaat dan nilai setidaknya setimpal.

Produk Tilapia RSI dipasarkan dengan slogan bebas abtibitotik, kayak protein dan vitamin D. Ini adalah contoh value co-creation yang baik. Ikan nila merupakan salah satu penyumbang inflasi (volatile food) di beberapa daerah Indonesia sepanjang 2019. Penyebabnya karena ketersediaan yang kadang langka. Di luar negeri, berbagai produk pertanian dan perikanan tidak semua dijual segar; banyak yang dibekukan (agar tidak terlau berubah bentuk dan fungsi). Ini sangat membantu stabilitas harga produk segar itu sendiri. Ekonomi maju bukan karena harga produk dijual murah, tetapi karena harga terjaga stabil. Lebih luas, dengan pengembangan produk dan produksi yang lebih massal, baik RSI atau pemain lain akan dapat membantu bangsa mengatasi persoalan seperti stunting yang sangat dipengaruhi oleh konsumsi protein terutama hewani. Saya yakin, alumni IPB ke depan akan semakin berkiprah untuk mengatasi persoalan bangsa demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia.

Jayalah IPB kita.

Bisnis Lainnya