Peringati Hari Bumi dan Kartini, ITK IPB Gelar Indonesia Maritime Talk Series 2

( kata)

Himpunan Alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan (Haitek) dan Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan (Himiteka), Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University mengelar Indonesia Maritime Talk Series 2 pada 23/4. Acara yang digelar secara online ini terdiri dari serangkaian talkshow bersama tokoh-tokoh inspiratif di bidang kelautan yang dilaksanakan mulai dari bulan April hingga Mei.

Indonesia Maritime Talk Series 2 digelar untuk memperingati Hari Bumi (22/4) dan Hari Kartini (21/4). Sehingga, tema yang diusung kali ini adalah ”Perempuan Jaga Bumi”. Menurut Dr Ir Neviaty Zamani, MSc, dosen dari Departemen ITK FPIK, perempuan memiliki peran besar dalam menjaga bumi atau pertiwi. “Pertiwi sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang memiliki arti ibu bumi atau dalam bahasa Indonesianya sering disebut dengan Ibu Pertiwi. Tidak ada bapak pertiwi. Adanya ibu pertiwi. Bapak hanya menitipkan dan ibu yang menjaganya,” tuturnya.

Perempuan bisa menjadi apa saja untuk menjaga bumi. Salah satu tokoh yang mengisi acara ini adalah Estradivari, seorang perempuan yang memilih untuk menjadi penggiat konservasi laut untuk menjaga bumi. Menjadi penggiat konservasi laut bukanlah hal yang mudah. Dalam paparannya, Estradivari mengungkapkan bahwa perempuan yang berprofesi sebagai peneliti kurang dari 30 persen dari jumlah peneliti di dunia. Hal tersebut tidak mematahkan semangat Estradivari dalam menjaga bumi. Justru, setiap kendala yang ditemuinya dijadikan sebagai tantangan yang harus bisa diselesaikan.

“Meskipun banyak tantangan, saya tetap aktif menulis paper dan terjun ke lapangan. Hingga, saya berhasil menemukan spesies bintang laut baru di Kakaban dan menamainya menggunakan nama saya, yaitu Limnasterias estradivariae,” ungkapnya.

Siti Nurwati Hodijah selaku Koordinator Research Center Komnas Perempuan juga menyatakan bahwa menjadi perempuan itu tidak mudah. Banyak stigma yang kurang tepat yang ditujukan untuk perempuan. Contohnya, perempuan yang pulang malam sering dipandang buruk. Padahal, tidak sedikit perempuan yang melakukan hal-hal positif hingga harus pulang malam. Banyak juga perjuangan perempuan yang tidak tercatat dalam sejarah meskipun menang dalam perjuangannya. “Sebagai sesama perempuan harus saling menguatkan. Karena menjadi pejuang perempuan itu sangat berisiko dan banyak ancaman,” pesannya.

Dalam kesempatan ini juga Mardha Tillah selaku Direktur Eksekutif Rimbawan Muda Indonesia menyatakan bahwa kontribusi perempuan dalam menjaga bumi sebenarnya sudah banyak tetapi terkadang kurang diakui. Contohnya, banyak perempuan yang membantu suaminya menanam padi di sawah. Tetapi pengakuannya kurang. Sehingga, pekerjaannya di kartu tanda pengenal (KTP) hanya tertulis sebagai ibu rumah tangga. Hal-hal seperti ini dapat diminimalisir dengan adanya pemahaman gender yang dilakukan sedini mungkin.

Selain itu, Arifah Handayani selaku Youth Program Coordinator Climate Reality Indonesia juga menghimbau perempuan untuk mengetahui adaptasi dan mitigasi terhadap climate change atau perubahan iklim. Harapannya, perempuan bisa jadi part of solution. Peran perempuan dalam menjaga bumi bisa dilakukan mulai dari hal kecil. Hal kecil yang dapat dilakukan antara lain mendidik anak untuk ikut berperan dalam menjaga bumi, menggunakan kendaraan umum, mengurangi penggunaan plastik, menanam pohon, dan hemat energi. Apapun profesinya, perempuan tetap bisa menjadi agent of change.“Setiap hari adalah hari bumi. Every step is counted,” tutupnya (AD/Zul).

Sumber : kumparan.com